FPN

Front Persatuan Nasional

Archive for August, 2004

August 27, 2004

Pengajian Tauhid Wahdatul Ummah (011)

Menemukan Tuhan


Oleh : KH. Agus Miftach
Filsuf Yunani Anximandros (610-540 SM) mengatakan bahwa arkhe (awal-mula) adalah to aperion (yang tak terbatas) diluar sifat-sifat bendawi yang dikenal manusia. Pernyataan Anaximandros tentang azas to aperion sebenarnya telah memasuki dimensi transcendental. Pengertian “yang tak terbatas diluar sifat-sifat bendawi yang dikenal manusia”, artinya diluar logika dan diluar batas-batas ruang dan waktu serta diluar hukum-hukum fisika. Oleh karena itu pengertian arkhe dalam to aperion lebih bermakna yang menciptakan awal atau yang tidak berawal, dengan sendirinya tidak pula berakhir.

August 20, 2004

Pengajian Tauhid Wahdatul Ummah (010)

Kebangkitan Akal Pikiran

Oleh : KH. Agus Miftach
Ketidakberdayaan akal pikiran manusia dalam mengontrol kehidupan sesudah mati, menjadikan dependensi manusia terhadap aspek transcendental. Dari arah inilah dimulai peribadatan kepada Allah Azza wa Jalla, dan pengertian yang mendalam atas ayat kelima surat Al-Fatihah: “Iyyaka na’budu, wa iyyaka nasta’ien”, yang artinya : “Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah, dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan”. Resultante dan stressing point ayat ini lebih terarah kepada pertolongan di hari akhirat dimana manusia tidak memiliki otoritas dan independensi apapun.

August 13, 2004

Pengajian Tauhid Wahdatul Ummah (009)

Menjenguk Kematian


Oleh : KH. Agus Miftach
Al-kisah Naciketas seorang pemuda yang saleh dan cerdas setelah menyucikan diri dengan jalan berpuasa selama tiga hari tiga malam, bermeditasi sepenuh hatinya, bertanya kepada Yama, penguasa kematian menurut istilah Hindu, atau Malakul-Maut menurut istilah Islam. Pertanyaannya adalah : “Apakah setelah mati seseorang itu “ada” atau “tidak ada”? Yama menjawab : “Dia yang telah dibebaskan dari batasan-batasan nama dan bentuk, yang telah menjadi satu dengan segalanya, tidak dapat dikatakan ada (exist) dalam pengertian biasa.

August 6, 2004

Pengajian Tauhid Wahdatul Ummah (008)

Agnostik dan Transenden


Oleh : KH. Agus Miftach
Versi agnostic berpendapat bahwa struktur biologi manusia terdiri dari jasad dan jiwa. Dalam proses kematian jasad akan terurai kembali kepada unsur-unsur aslinya pada habitat bumi. Sedangkan jiwa yang terdiri kesadaran, kehendak, ingatan dan intelijen tetap hidup secara metafisik. Taraf kehidupan jiwa yang ideal disebut Moksha (Hinduisme) atau Nirvana (Buddhisme), yang artinya keadaan metafisik yang sempurna yang digambarkan sebagai Jiwa yang Suci dan Abadi.