FPN

Front Persatuan Nasional

Archive for February, 2005

February 25, 2005

Pengajian Tauhid Wahdatul Ummah (031)

Brahman


Oleh : KH. Agus Miftach
Menurut Swami Sirvanada tokoh spiritual Hindu, manusia selalu ingin mati dengan tenang dengan pikiran terpusat kepada Tuhan. Ketika goyah, maka ia dibantu dengan mantra dan sloka-sloka suci untuk mengingatkan pada hakikatnya yang sesungguhnya. Hanya dengan cara mati yang demikian maka derajat manusia akan kembali ke kemulyaannya di alam astral.

February 18, 2005

Pengajian Tauhid Wahdatul Ummah (030)

Iman dan peradaban


Oleh : KH. Agus Miftach
Idealitas keluhuran budi yang diajarkan kepada manusia di zaman ini memiliki akar antropologi dan etnografi pada masa ribuan tahun yang silam. Tak hanya dalam historiografi agama-agama samawi, tetapi dalam proses kebudayaan manusia seluruhnya. Sebagai contoh ajaran Khonghucu tentang Te, yang bermakna kebajikan dan kekuatan moral yang masih berlaku hingga sekarang bagi masyarakat tradisional Tionghoa diseluruh dunia, sangat dipengaruhi legenda sejarah Yao dan Shun dari masa ribuan tahun yang silam.

February 11, 2005

Pengajian Tauhid Wahdatul Ummah (029)

Im-lek dan Yang-lek


Oleh : KH. Agus Miftach
Tahun Im-lek didasarkan pada peredaran bulan seperti Tahun Hijriyah. Disamping Im-lek orang China juga menggunakan penanggalan matahari yang disebut Yang-lek, mengikuti tahun masehi. Tahun Im-lek dihitung mulai tahun lahirnya filsuf besar Khonghucu pada tahun 551 SM yang oleh kalangan tradisionalis bahkan dianggap sebagai Nabi-China.

February 4, 2005

Pengajian Tauhid Wahdatul Ummah (028)

Al Ghoib dan Shalat


Oleh : KH. Agus Miftach
Secara psikologis Zakat dan Infaq sekaligus membentuk faktor ekstrinsik yang seimbang terhadap faktor intrinsik yang terbentuk dari proses kognitif Al-Ghoibi dan implementasinya dalam Sholat. Keseimbangan hablunminallah dan hablunminannaas ini akan membentuk biosphere, yaitu kesatuan struktur nilai yang utuh antara skemata dengan semua stimulus lingkungannya, membentuk keseimbangan jiwa dan kognitif yang sempurna. Dari posisi itulah emansipasi seorang Muslim naik untuk menggapai capaian Ruhaniat tertinggi yaitu keridhoan Allah Al-Ghoib