FPN

Front Persatuan Nasional

Archive for March, 2005

March 25, 2005

Pengajian Tauhid Wahdatul Ummah (035)

Qobil dan Habil


Oleh : KH. Agus Miftach
Habil seorang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah, ia kasih dan patuh kepada Allah. Jiwanya berpegang pada das Ueber Ich dan transcendent-function. Maka ia berpegang pada ajaran agama yang diterima dari ayahnya Nabi Adam a.s, dan ia ikhlas terhadap semua petunjuk dan perintah Allah dan ia yakin akan kebenaran kebahagiaan akherat. Sebaliknya Qobil seorang yang beriman tetapi tidak bertaqwa, ia lebih mendengarkan hawa nafsunya sendiri. Jiwanya berpegang pada das Es dan archeytipus

March 18, 2005

Pengajian Tauhid Wahdatul Ummah (034)

Atrahasis, Nabi Nuh Versi Pagan


Oleh : KH. Agus Miftach
Dewa Ea yang menyukai seorang manusia bernama Atrahasis membocorkan rencana tersebut. Atrahasis, keluarga beserta ternaknya selamat dengan sebuah kapal besar. Sesudah air bah surut Atrahasis mempersembahkan korban kepada para dewa-dewi yang diterima dengan baik (Baker & Bimson, 2004). Inilah epos “Nabi Nuh” versi paganisme yang merupakan bagian penting dari keseluruhan ketidaksadaran kolektif ras Arab sebelum masa kenabian Muhammad SAW.

March 11, 2005

Pengajian Tauhid Wahdatul Ummah (033)

Psiko-antropologis


Oleh : KH. Agus Miftach
Regresi yang intens membuat orang-orang munafik terus-menerus terjebak dalam nilai-nilai lama, sementara proses kognitif hanya mampu menyerap nilai-nilai baru secara tidak utuh. Akibatnya terjadilah proses asimilasi dan akomodasi yang tidak sempurna, menghasilkan satu skema ekuilibrasi yang tidak utuh. Dalam proses ini sebagian dari kesadaran mencoba memahami ajaran Tauhid sementara ketidaksadaran kolektif tetap terikat kuat pada struktur nilai masa lalu yang telah membentuk konstitusi jiwa dan mempengaruhi kepribadian dasar (basic personality structure).

March 4, 2005

Pengajian Tauhid Wahdatul Ummah (032)

Kesatuan Agama Samawi

Oleh : KH. Agus Miftach
Adalah kenyataan bahwa populasi mayoritas agama-agama bersumber dari keturunan, bersifat endogen, mewakili mainstream kebudayaan dan peradaban manusia di suatu kawasan pada zamannya masing-masing. Maka kebenaran menebar di berbagai agama. Jika direntangkan seluruhnya akan tampak hakekat transendental Yang Tunggal. Dalam berbagai istilah pada hakekatnya mengacu kepada Allah Ta’aala Tuhan Yang Maha Esa.