FPN

Front Persatuan Nasional

Archive for June, 2009

June 26, 2009

Pengajian Tauhid Wahdatul Ummah ke-227

Ribawi Ekonomi Rakyat (ke III)

(Materi Pengajian Hari Jumat Malam, tanggal 26 Juni 2009, pukul 19.30 WIB s.d. selesai)

Oleh K.H. Agus Miftach

Dengan APBN Rp. 1.030 trilyun yang hanya terpenuhi 60 %, dan pertumbuhan dibawah 4 %, hutang luar negeri sekitar Rp. 1.700 trilyun dengan kemampuan DSR sekitar 30 % dan cadangan devisa sekitar USD 40 milyar yang sebagian besar berupa hot money, sudah dapat dibayangkan tekanan ekonomi dengan ledakan pengangguran dan kemiskinan dan segala multidampaknya []


June 19, 2009

Pengajian Tauhid Wahdatul Ummah ke-226

Ribawi Ekonomi Rakyat (ke II)

(Materi Pengajian Hari Jumat Malam, tanggal 19 Juni 2009, pukul 19.30 WIB s.d. selesai)

Oleh K.H. Agus Miftach

Tugas system perbankan dan Negara adalah mendukung kemampuan ekonomi rakyat agar berkembang pada jalur gross-economy itu. Rasanya langkah ini lebih dekat kepada sasaran kemakmuran dan keadilan. Tetapi spirit pasar bebas tidak perlu dihilangkan sama sekali, melainkan pasar yang bebas dan terkendali untuk memelihara kestabilan dan kekuatan pasar domestic yang akan menjadi basic land perdagangan public []


June 12, 2009

Pengajian Tauhid Wahdatul Ummah ke-225

Ribawi Ekonomi Rakyat

(Materi Pengajian Hari Jumat Malam, tanggal 12 Juni 2009, pukul 19.30 WIB s.d. selesai)

Oleh K.H. Agus Miftach

Sesungguhnya jika semua unsur ribawi dihilangkan dari system perekonomian, ekonomi rakyat secara alamiah memiliki kemampuan untuk berkembang. Bukan berarti bank konvensional dibubarkan digantikan dengan bank syari’ah, itu sama saja hanya beda istilah. Yang dimaksud menghilangkan unsur ribawi adalah menghilangkan semua unsur ketidakadilan disemua sisi perekonomian, di sector moneter, fiscal dan riil dan di semua sisi perekonomian []


June 5, 2009

Tanggapan Terbuka terhadap Pidato Presiden Obama

Tanggapan Terbuka terhadap Pidato Presiden Obama

Oleh K.H. Agus Miftach

barak mubarak_resizeBetapapun Presiden Obama di Universitas Cairo, Mesir membuka babak baru hubungan Barat dengan dunia Islam. Ini merupakan harapan untuk membangun Tata Dunia Baru (Novus Ordo Seclorum) dan menyatukan ragam perbedaan kepada satu keyakinan bersama (E Pluribus U Num) untuk kehidupan yang bebas dari rasa curiga menuju kepada sikap toleransi dan saling percaya untuk membangun dunia yang lebih damai dan sejahtera. Pembukaan pidatonya dengan “Assalamu’alaikum” dan sejumlah pengutipannya yang tepat ayat-ayat suci Al-Qur’an mengawali rekonsiliasi budaya yang penuh harapan. Presiden Obama dengan jelas dan tegas membedakan antara Muslim dengan teroris. Tetapi tak cukup hanya dengan retorika, Presiden Obama harus membuktikan dengan langkah dan program yang nyata. Kita memang tidak boleh terlalu optimis, itu semua perlu dibuktikan menjadi realitas social yang menjadi harapan kedua peradaban []


June 5, 2009

Pengajian Tauhid Wahdatul Ummah ke-224

Dinamika Politik Menjelang Pilpres 2009, ke VI

(Materi Pengajian Hari Jumat Malam, tanggal 05 Juni 2009, pukul 19.30 WIB s.d. selesai)

Oleh K.H. Agus Miftach

…Artinya tidak ada perbedaan yang prinsipil diantara SBY, Wiranto dan Prabowo. Maka jangan heran kalau Prabowo dan Wiranto begitu gampang berdamai setelah perseteruan mereka selama masa aktif dahulu. Bahkan Megawati dibawah asuhan Taufik Kiemas itupun menjadi sangat pragmatis dengan berpasangan dengan Prabowo. Ini negasi total terhadap perseteruan ideologis Soekarno-Sumitro []


June 4, 2009

[Antara] FPN:Pilpres Sebagai Landasan Menuju Kesejahteraan Bangsa


Agus mengharapkan, pasangan capres-cawapres khsusnya dari Partai Demokrat yakni SBY-Boediono mampu memberikan jawaban yang kreatif dan produktif terhadap tantangan yang sangat berat itu dan pasangan SBY-Boediono mampu memperoleh mandat rakyat dalam pilpres 8 Juli mendatang, untuk tujuan yang mulia, yaitu mengantarkan proses demokrasi pada arah yang benar untuk mencapai masa depan bangsa yang lebih maju dan sejahtera.


June 1, 2009

Pidato Pengantar Dialog Kebangsaan X

Memahami Makna Pemilihan Presiden 2009

Oleh Ketua Umum Front Persatuan K.H. Agus Miftach

GM1Betapapun banyak kekurangan, kita telah berada pada jalur yang benar atau istilah praktisnya “on the track”. Tinggal bagaimana kita mengelemenir semua kekurangan dan mengoptimalkan semua aspek ideal yang harus dicapai dalam Pilpres 2009 mendatang dengan tolok ukur Pancasila, Preambule UUD 1945, Naskah UUD 1945 Amandemen, UU Nomor 42 Tahun 2008, dan jangan lupa sejarah dan budaya bangsa. Jika kita berhasil menyelenggarakan Pilpres dengan kualitas politik yang baik dan legitimated secara moral, maka sesungguhnya kita tengah mengatasi disorientasi dan dislokasi untuk menemukan mainstream nilai-nilai modernitas sosial yang sungguh kita perlukan dalam menciptakan emansipasi sosial kebangsaan ke depan. Maka ketika kita memberikan suara kita dalam Pilpres mendatang, kita tak sekedar memilih seorang pemimpin, tetapi lebih dari itu kita telah meletakkan landasan dan modalitas bagi sublimasi-progresif bangsa ini ke arah masa depan yang lebih baik.[]