FPN

Front Persatuan Nasional

Archive for July, 2009

July 30, 2009

Pengajian Tauhid Wahdatul Ummah ke-232

Terorisme dan Masalah-Masalah Sosial (ke II)

(Materi Pengajian Hari Jumat Malam, tanggal 31 Juli 2009, pukul 19.30 WIB s.d. selesai)

Oleh K.H. Agus Miftach

Putusan MA yang mengubah perhitungan kursi serta pertemuan Budiono-Megawati, merupakan titik-titik rawan yang dapat memunculkan gejolak politik yang lebih besar dengan destabilitas politik dan keamanan yang lebih buruk. Meningkatkan radikalisme politik dan sangat mungkin meningkatkan terorisme. Putusan MA akan menghancurkan Partai-partai menengah seperti PKS, PAN, PPP, Gerindra dan Hanura, dengan pengurangan jumlah kursi yang cukup besar [….]


July 25, 2009

[Press Release] Hentikan Genocida di Urumqi, China

Oleh K.H. Agus Miftach

Urumqi01FPN mendesak dihentikannya kekerasan di Urumqi dan dikembalikannya posisi social tradisional warga Muslim-Uighur serta dibebaskannnya tokoh Cendekiawan Muslim-Uighur Prof. Ilham Tohti. Sebaliknya suatu gagasan persahabatan antar group etnis di Urumqi seperti dipromosikan Ilham Tohti adalah penyelesaian yang terbaik, adil dan harmonis untuk Urumqi, Xinjiang.

July 23, 2009

Pengajian Tauhid Wahdatul Ummah ke-231

Terorisme dan Masalah-Masalah Sosial

(Materi Pengajian Hari Jumat Malam, tanggal 24 Juli 2009, pukul 19.30 WIB s.d. selesai)

Oleh K.H. Agus Miftach

Kedua kelompok keras itu berfantasi melakukan Jihad melawan Barat yang dianggap telah merampas kedaulatan Islam terhadap dunia pada pertengahan abad 19 yang berlanjut dengan penjajahan Barat. Mereka menganggap diri mereka sebagai para mujahid di garis depan yang tengah berperang melawan dominasi Barat yang dianggap kafir. Fantasi ini menjadi semakin menarik sebagai pelarian dari kesulitan hidup arus bawah di Indonesia.[….]


July 17, 2009

Pengajian Tauhid Wahdatul Ummah ke-230

Memantau Hasil Pilpres 2009 (ke II)

(Materi Pengajian Hari Jumat Malam, tanggal 17 Juli 2009, pukul 19.30 WIB s.d. selesai)

Oleh K.H. Agus Miftach

Tentang intervensi asing ini, pasangan SBY-Budiono tidak berkomentar apapun. Agaknya mereka tidak khawatir bahwa kasus ini akan menganulir kemenangan mereka. Betapapun SBY-Budiono akan tetap menang. Tetapi sesungguhnya kasus ini bisa diajukan ke MK untuk diadili dan berpeluang untuk diputuskan bahwa hasil Pilpres 2009 tidak sah karena bertentangan dengan UU no. 42/2008 tentang Pilpres. Ini setidaknya akan menjadi tuntutan Mega-Pro untuk menegasi kekalahan mereka menjadi destabilitas politik dan keamanan dengan oportunitas politik yang tinggi bagi mereka. Benarkah hal seperti itu bisa terjadi ? Itu terlalu berbahaya.[….]


July 9, 2009

Pengajian Tauhid Wahdatul Ummah ke-229

Memantau Hasil Pilpres 2009 (ke I)

(Materi Pengajian Hari Jumat Malam, tanggal 10 Juli 2009, pukul 19.30 WIB s.d. selesai)

Oleh K.H. Agus Miftach

Dan dengan perbaikan DPT serta izin penggunaan KTP untuk data pemilih sebagaimana keputusan MK tgl. 6/7, maka legitimitas keterpilihan SBY-Budi menjadi lebih baik, dengan tingkat kecurangan yang berhasil ditekan oleh kubu Mega-Pro dan JK-Win menjadi lebih rendah. Artinya kecil kemungkinan terjadinya gejolak dan kerusuhan politik pasca pilpres seperti dikhawatirkan banyak pihak. Kita ucapkan selamat kepada pasangan SBY-Budiono dengan harapan mampu melakukan perbaikan kinerja pemerintah 5 tahun mendatang []


July 4, 2009

[Press Release] Ketua KPU Harus Segera Di Ganti

Oleh K.H. Agus Miftach


…Inilah jalan keluar terbaik untuk menjamin pilpres yang jujur dan adil. Ini sekaligus mencegah kemungkinan terjadinya kerusuhan pasca pemilu akibat ketidakpercayaan publik terhadap netralitas KPU. Pemerintah tidak dapat dipersalahkan dalam perilaku KPU itu, karena KPU tidak berada dibawah garis instruktif pemerintah melainkan merupakan lembaga independen yang bertanggungjawab terhadap UU []

July 3, 2009

Pengajian Tauhid Wahdatul Ummah ke-228

Ribawi Ekonomi Rakyat (ke IV)

(Materi Pengajian Hari Jumat Malam, tanggal 03 Juli 2009, pukul 19.30 WIB s.d. selesai)

Oleh K.H. Agus Miftach

Ekonomi syari’ah pada dasarnya tidak ada, yang ada adalah etika Islam. Melihat pertumbuhan obyektif ekonomi dunia dewasa ini, maka Islam tidak mungkin membangun segregasi dan mengucilkan diri dengan alasan fanatisme yang tidak jelas. Melainkan lebih obyektif membuka diri bagi suatu sublimasi perekonomian modern dengan etika Islam, yang memungkinkan dunia mencapai tingkat peradaban ekonomi yang lebih tinggi lagi []