FPN

Front Persatuan Nasional

September 26, 2007

Sambutan Dirjen KESBANGSOSPOL Departemen Dalam Negeri

SAMBUTAN DIRJEN KESBANGPOL DEPARTEMEN DALAM NEGERI DALAM RANGKA PROGRAM PENINGKATAN WAWASAN KEBANGSAAN DAN CINTA TANAH AIR KERJASAMA DEPARTEMEN DALAM NEGERI DENGAN BPP FRONT PERSATUAN NASIONAL

JAKARTA, 26 SEPTEMBER 2007

Dir. Fasilitasi Orpol/Ormas Dr. Suhatmansyah( tengah membacakan sambutan tertulis Dirjen Kesbangpol Depdagri), pada acara Dialog Kebangsaan ke IV yang diselenggarakan oleh FPN bekerjasama dengan Ditjen Kesbangpol.

Assalamu’alaikum

Warahmatullahi Wabarakatuh

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rakhmat-Nya sehingga kita diberikan kekuatan dan kesehatan untuk berkumpul dalam acara yang penting di tempat ini, amin.

Hari ini kita berkumpul dalam rangka pelaksanaan kegiatan kerjasama Departemen Dalam Negeri dengan Organisasi Kemasyarakatan. Pada acara Dialog Kebangsaan ke 4 ini, bertujuan untuk mempertemukan para tokoh nasional, tokoh ormas, LSM selain itu juga mengandung makna yang sangat dalam yaitu mempererat tali silahtuhrahmi diantara kita. Terlebih lagi saat ini, dalam suasana bulan suci ramadhan, bulan yang penuh rahmat bagi umat Islam.

Melalui kegiatan ini, diharapkan dapat menemukan solusi terbaik bagi kehidupan berbangsa dan bernegara kita kedepan. Sehingga semua persoalan yang menyakut kepentingan bangsa dan bernegara dapat diminimalisir yang pada akhirnya ditemukan solusi dan penangananya.

Hadirin yang saya hormati,

Berbicara mengenai Negara Kesatuan Republik Indonesia tentulah tidak bisa dilepaskan dengan Wawasan Nusantara yaitu cara pandang bangsa atas diri dan lingkungannya, sebagai sebuah negara kepulauan yang disatukan oleh lautan, dalam sebuah kesatuan sistem politik, sistem ekonomi, sistem sosial budaya, dan sistem pertahanan keamanan. Namun sangat disayangkan bahwa saat ini wawasan nasional bangsa Indonesia cenderung ditinggalkan.

Beberapa tahun belakangan ini di berbagai aspek kehidupan bangsa Indonesia telah mengalami gejala terjadinya erosi wawasan kebangsaan dan penurunan kualitas jati- diri bangsa. Ikatan-ikatan dalam berbagai aspek kehidupan ipoleksosbud dan hankam yang sebelumnya terpatri kuat dalam suatu titik pandang yang sama dalam kesatuan pola sikap dan perilaku nasionalisme, kini berkembang dalam kesatuan etnis oriented yang sangat sempit dan terus meningkat sehingga merongrong kewibawaan pemerintah dan negara bangsa (nation state). Berbagai konflik di daerah terjadi tidak hanya bersifat horizontal, namun juga terjadi bersifat vertical yang diindikasikan terdapatnya kecenderungan keinginan daerah untuk memisahkan diri dari NKRI.

Hadirin yang kami hormati,

Kebangsaan dan faham kebangsaan merupakan kesatuan komponen wawasan kebangsaan yang terpencar sebagai kualitas dan ketangguhan dalam menghadapi berbagai ancaman terhadap eksistensi suatu negara bangsa ( Indonesia ) atau bisa disebut juga “ Nasionalisme Indonesia “. Semangat kebangsaan atau nasionalisme sebagai bagian dari wawasan kebangsaan berdasarkan Pancasila sebagai ideology dan dasar negara serta Pembukaan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945, merupakan pendorong dan motivasi mengisi kemerdekaan/pembagunan guna mempertahankan tegaknya atau kelangsungan NKRI, sekaligus sebagai manivestasi dari kesadaran bela negara-bangsa. Semangat bela negara ini mengalir rasa kesetia-kawanan sosial, kesadaran akan persatuan dan kesatuan sebagai kebutuhan mendasar dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, cinta tanah air, menghayati Pancasila, Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 dan rela berkorban sebagai perwujudan pola sikap dan perilaku “ Patriotisme “ guna mencapai cita-cita dan tujuan nasional.

Hadirin yang berbahagia ;

Diantara sekian banyak tantangan yang ada, dampak globalisasi senantiasa menjadi persoalan yang dipandang dengan rasa keprihatinan. Globalisasi memang sebuah keniscayaan, siap atau tidak siap, bangsa kita akan masuk ke dalam arus besar pergeseran nilai tersebut. Kita menyadari bahwa dibalik peluang-peluang yang ada, globalisasi juga dengan sarat dengan tantangan-tantangan yang secara nyata kita hadapi. Globalisasi telah memberi tekanan agar kita menjadi bangsa yang modern, namun demikian modernitas itu tidak harus mengubah kita sebagai bangsa yang memiliki kepribadian, yang memiliki karakter atau jatidiri.

Kita semua tentu sudah memahami apa saja yan bersifat mengancam kita sebagai sebuah bangsa. Kita memiliki banyak catatan untuk menjelaskan penyebab posisi relatif Indonesia yang tidak terlalu menggembirakan dalam percaturan global. Berbagai indikator yang menempatkan Indonesia di bawah rata-rata kemajuan negara lain merupakan sinyal betapa berat tugas kita dalam mengembalikan posisi Indonesia sebagai negara besar yang berpengaruh. Kita memang harus meningkatkan daya saing nasional kita.

Suasana Dialog : Kiri ke kanan : Ferry Johannes (SAM Mensos), Dr. Suhatmansyah (Kesbangpol Depdagri). Dr. Soekmana Soma (PB. Ahmadiyah), Ketua Umum FPN KH. Agus Miftach (Kedua dari kanan) dan Alfian Tanjung Uhamka (paling kanan).

Hadirin yang berbahagia ;

Adalah penting bagi kita semua untuk menyadari posisi Indonesia. Hanya dengan kesadaran kebangsaan itulah kita akan memiliki semangat untuk mengejar ketertinggalan kita di berbagai bidang. Dengan demikian, kesadaran kita sebagai bangsa itulah yang akan menjadi dasar kita untuk mensejajarkan diri di tengah bangsa-bangsa lainnya di dunia. Kesadaran itu tentu terkait erat dengan sikap mental kita sebagai bangsa.

Globalisasi memang cenderung mengarahkan kita untuk menganut paham kosmopolitanisme maupun internasionalisme. Dua kecenderungan ini secara tidak langsung mempengaruhi sikap dan semangat kebangsaan atau nasionalisme kita. Padahal nasionalisme adalah kunci jati diri dan kepribadian bangsa kita. Dengan kata lain, tanpa adanya kepribadian, maka dengan sendirinya nasionalisme Indonesia itu surut. Apa yang terjadi apabila semangat kebangsaan kita sudah luntur?

Para pimpinan Ormas dan LSM yang serius mengikuti jalannya Dialog yang dipimpin langsung KH. Agus Miftach dalam suasana yang panas.

Hadirin yang berbahagia ;

Tentu saja rasa kebangsaan yang saya maksud bukanlah rasa kebangsaan yang chauvinist. Bukan suatu paham yang ingin memenangkan dan mengunggulkan bangsa sendiri saja tanpa mengindahkan rasa kemanusiaan. Rasa kebangsaan yang saya maksud bukan rasa kebangsaan yang mengenyampingkan watak Rahmatan Lil Alamin. Bukan rasa kebangsaan yang meniadakan kasih dan sayang sebagaimana Allah ajarkan Al Quran selalu tuntun kita dengan ucapan Bismillahirrahmanirrahim. Tetapi kita harus memperkuat bangsa kita, kita harus bersatu, kita harus memajukan dan mensejahterakan bangsa kita justru karena kita berkeyakinan bahwa kemerdekaan Indonesia itu adalah berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa. Bahwa bangsa kita telah bersumpah untuk menciptakan keadilan yang berkemakmuran bahkan pada tataran dunia.

Semangat kebangsaan yang saya maksud itu adalah semangat kebangsaan yang berpijak pada pemahaman dan pengalaman kita akan makna dan hakekat Pancasila sebagai ideology negara, Undang-Undang Dasar Tahun 1945 sebagai konstitusi, Bhineka Tunggal Ika sebagai motto sekaligus komitmen persatuan serta konsepsi kita tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia yang keseluruhannya sangatlah tidak bertentangan dengan apa yang diajarkan Allah SWT.

Apabila kita semua tidak lagi mengindahkannya, maka sudah pasti bangsa ini akan terombang-ambing dalam gelombang samudera perubahan dunia. Dan bangsa kita akan menjadi bangsa yang tidak mampu menunjukan kebesaran Allah SWT.

Hadirin yang berbahagia ;

Melalui kegiatan ini saya ingin mengatakan bahwa persoalan bangsa yang besar dan semakin berat ini hanya mungkin diatasi apabila masyarakat, termasuk Ormas/LSM, terlibat penuh, disamping pemerintah dan pemerintah daerah. Kita harus bersatu di dalam mengatasi berbagai persoalan pembangunan nasional. Hanya dengan persatuan itulah kita dapat tegak dan berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi serta berkepribadian dan berbudayaan.

Kegiatan ini jelas akan sangat besar pengaruhnya dalam membangun kesadaran kebangsaan kita, khususnya di kalangan santri. Insyaallah, kerjasama program antara ormas/LSM maupun Lembaga Nirlaba lainnya dan Departemen Dalam Negeri semacam ini menjadi pelopor bagi kebangkitan bagi bangsa kita ke depan menuju cita-cita kemerdekaan sebagaimana diucapkan ketika bangsa ini diproklamirkan pada 17 Agustus 1945. Amin, amin ya Rabbal alamin.

Sekian dan Terima Kasih.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

DIREKTUR JENDERAL KESATUAN BANGSA DAN POLITIK

Dr. Ir. SUDARSONO H, MA. SH

3 comments for this post.

  1. Comment from Octavianus Mangge on May 15th, 2009 :

    Yth,Setditjenkesbangpol

    Dengan hormat,

    Kami dari pihak LSM di Serui Papua, sangat tertarik dengan kegiatan yang akhir-akhir ini dilaksanakan oleh pihak Depdagri bersama elemen masyarakat di Indonesia, kami harap hal ini kalau boleh diupayakan untuk lebih di fokuskan di Papua, karena kondisi terakhir di Papua adalah bahwa Masyarakat terutama akar rumput sudah tidak percaya lagi dengan berbagai program yang berbau OTSUS, karena anggapan mereka bahwa OTSUS telah GAGAL, tapi kalau masih jalan itu hanya dinikmati oleh kaum Birokrat saja, yaitu pihak Executive dan Legislativ.

    Mohon seluruh potensi elemen masyarakat di Papua diajak memahami bersama OTSUS dalam Konteks NKRI sesuai cita-cita kita bersama.

    Hormat Saya,

    Octavianus Mangge
    Directur LIKMAP Papua Serui

  2. Comment from Andrianus Uran on May 23rd, 2009 :

    Yth, Sekretariat Ditjen Kesbangpol

    Dengan hormat,

    Kami dari LSM Bambu Nusantara yang bekerja di wilayah Kota Madiun, Kabupaten Madiun, Kabupaten Nganjuk dan Kota Surabaya-Propinsi Jawa Timur sangat tertarik dengan kegiatan kerjasama dengan LSM dan elemen masyarakat yang lain. Prinsipnya kami sangat setuju dan tertarik dengan kegiatan-kegiatan yang berdampak membangun persaudaraan sesama warga masyarakat dan mencegah disintegrasi bangsa yang belakangan ini terus mengemuka yang salah satunya soal pemahaman yang sempit soal otonomi daerah, pertumbuhan demokrasi yang tidak merata.

    Kami berkerja pada isu gender, kesehatan, pendidikan dan demokrasi. Jika tidak keberatan kami ingin mengetahui mekanisme mengakses kerjasama tersebut.

    Demikian, atas perhatian dan kerjasamanya disampaikan terima kasih dan selamat berkarya untuk bangsa dan negara.

    Hormat Saya,

    Andrianus Uran
    Direktur

    Sekretariat : LSM Bambu Nusantara
    Jl. Slamet Riyadi Blok I / 17 - Madiun
    Propinsi Jawa Timur
    Telp / Fax : (0351) 491016
    HP : 0817375073

  3. Comment from Andrianus Uran on May 23rd, 2009 :

    Email saya betul adalah andri_uran@yahoo.com

Leave a Comment