FPN

Front Persatuan Nasional

October 30, 2009

Pengajian Tauhid Wahdatul Ummah ke-240

Agama di Sisi Allah dan di Hati Manusia


KH. AGUS MIFTACH
agus_miftach@yahoo.co.id

Assalamu’alaikum War. Wab.

Bismillahirrahmanirrahiem,

ali-imron18

syahida allaahu annahu laa ilaaha illaa huwa waalmalaa-ikatu wauluu al’ilmi qaa-iman bialqisthi laa ilaaha illaa huwa al’aziizu alhakiimu

ali-imron19

inna alddiina ‘inda allaahi al-islaamu wamaa ikhtalafa alladziina uutuu alkitaaba illaa min ba’di maa jaa-ahumu al’ilmu baghyan baynahum waman yakfur bi-aayaati allaahi fa-inna allaaha sarii’u alhisaabi

ali-imron20

fa-in haajjuuka faqul aslamtu wajhiya lillaahi wamani ittaba’ani waqul lilladziina uutuu alkitaaba waal-ummiyyiina a-aslamtum fa-in aslamuu faqadi ihtadaw wa-in tawallaw fa-innamaa ‘alayka albalaaghu waallaahu bashiirun bial’ibaadi

“Allah menyatakan, bahwa tiada tuhan melainkan Dia. Para malaikat dan orang-orang berilmu juga menyatakannya. Dia yang menegakkan keadilan. Tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Perkasa lagi Mahabijaksana (18). Sesungguhnya Agama pada sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang diberi al-Kitab kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan, lantaran kedengkian diantara mereka. Barangsiapa yang kafir kepada ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat perhitungan-Nya (19). Kemudian jika mereka mendebatmu, maka katakanlah,”Aku menyerahkan diriku kepada Allah, demikian pula orang-orang yang mengikutiku.” Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah di beri al-Kitab dan kepada orang-orang yang ummi,”Apakah kamu (mau) masuk Islam?” Apakah mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah beroleh petunjuk. Dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan. Allah Maha Melihat akan hamba-hambaNya (20).”; Ali Imran : 18-20.

Kita akan membahas ketiga ayat diatas dengan pendekatan eklektik-multiperspektif, baik dari perspektif teologi, antropologi, historiografi maupun psikologi dll, secara holistis dan komprehensif, agar dapat diperoleh pemahaman yang utuh dan menyeluruh serta hikmah yang setinggi-tingginya.

Pokok Bahasan

Dalama ayat 18 ini Allah menyatakan keesaan diri-Nya dengan menegakkan dalil-dalil dan bukti-bukti semesta alam dan diri manusia yang di ciptakan-Nya. Kesaksian itu didukung pula oleh para malaikat dan orang-orang berilmu. Para ulama bersaksi tentang keesaan Allah dengan bukti-bukti dan alasan ilmiyah. Dalam hal ini posisi ulama yang duniawi disejajarkan dengan posisi malaikat yang transenden. Keadilan dalam perspektif ayat ini adalah keseimbangan, suatu equilibrium dalam memahami keagamaan dan keduniaan secara seimbang dan rasional. Tidak berlebihan dan tidak kurang.

Demikian pula tatanan semesta alam, dalam keseimbangan yang hakiki, Satu kesatuan tata-tertib yang berlangsung pada porosnya masing-masing secara sempurna. Pernyataan,”huwal-‘aziezulhakiem(u)”.. di akhir ayat hanya mempertegas eksistensi dan otoritas Allah terhadap semesta alam. Penegasan ini perlu karena diseberang keyakinan yang lain, para ilmuwan menolak klaim transenden yang dogmatis ini. Keseimbangan dan ketertiban semesta tidak membuktikan bahwa tuhan ada, tetapi membuktikan tentang eksistensi semesta itu sendiri sebagai independen factor.

Ini adalah ayat (ke 19) yang memberikan legitimasi bagi agama Islam. Tetapi agar tidak eksklusif sempit, Islam menempatkan diri sebagai mainstream semua agama Semitik, dari sejak zaman awal, hingga Yahudi dan Nasrani. Dengan ciri pokok tauhid. Tauhid Islam tidak sama dengan monoteisme yahudi yang mengakui ilah lain dibawah supremasi Yahweh.

Tauhid Islam menyangkal semua ilah, dan mengukuhkan Allah (nama tuhan Arab purba) sebagai satu-satunya ilah. Tauhid sungguh merupakan temuan original Muhammad, yang belum pernah ada sebelumnya. Tauhid yang dinisbathkan kepada Ibrahim tidak otentik melainkan etis saja untuk melibatkannya dalam latar belakang sejarah. Sehingga ada benang merah diantara kberadaan Muhammad saw dengan sejarah rumpun Semit. Tentu saja kalangan Yahudi dan Nasrani tidak pernah mengakui klaim Islam sebagai mainstream baru rumpun agama-agama Semit dengan doktrin Tauhidnya itu, yang membentuk titik konflik yang premanen diantara ketiga agama rumpun Semitik itu hingga masa sekarang.

Pada ayat 20 terdapat perintah untuk berdakwah menyampaikan agama islam kepada kalangan Yahudi, Nasrani dan Paganis Mekkah, dengan menghindari perdebatan, tapi cukup menyampaikannya dengan terang dan jelas sehingga dapat mereka pahami dengan baik. Dan jika mereka tetap mendebat Rasulullah saw dan kaum muslimin cukup menyatakan, kami berserah diri kepada Allah . Dan jika tetap menolak masuk Islam, maka kewajiban Rasulullah saw dan pengikutnya hanyalah menyampaikan. Adapun seseorang menjadi beriman atau tidak adalah urusan Allah. Itu domain ilahi bukan domain juru dakwah yang sekedar menyampaikan.

240-solomon
The Temple of Solomon, rekaan. Pusat agama Yahudi di masa silam.

240-vatican
Vatican City. Pusat agama Kristen-Katholik.

240-masjidilharam
Masjidil Haram, pusat agama Islam.

Agama-agama Semit di zaman modern

Setelah melintasi sejarah yang panjang, selama puluhan dan belasan abad, ketiga agama Semit (Yahudi, Kristen dan Islam) tumbuh sebagi pilar-pilar peradaban dunia dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Meskipun secara structural agama tak lagi mainstream yang memimpin peradaban dunia, tetapi secara essensial pengaruh agama tetap hidup dalam masyarakat.

Kini world-view baru dunia modern yang perkasa adalah ilmu pengetahuan dan teknologi yang memasuki seluruh relung kehidupan kita hingga yang terkecil. Tetapi kita tetap memerlukan agama sebagai norma dan sumber nilai yang tidak dapat diberikan oleh iptek. Bahkan setelah dua abad ini Iptek mencapai puncak kejayaannya, kini menjelang era postmodernisme, makin terasa kebutuhan agama bagi impersonalitas liberalism. Hanya agama seperti apa yang bisa survive di era modernism ? Jawaban dari pertanyaan inilah yang harus ditemukan. Agama tradisional yang bercorak konformitas-dogmatis, tentu tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat zaman ini. Tetapi agama modern yang radikal dan purifikatif juga tidak sesuai.

Syi’ah revoluioner ala Khomeini ternyata hanyalah satu momentum tanpa konsep matang, dan tentu saja tidak bisa diulang sebagai proses social. Dan hasilnya dapat dilihat dengan ideks keberhasilan pembangunan Iran. Menurut saya kurang berhasil. Nah, diperlukan emansipasi dan sublimasi lebih tinggi dari semua level itu, suatu Islam modern yang komplementer dengan peradaban zaman modern. Inilah yang sedang terus kita kaji selama ini.

Kita memerlukan agama yang memandang manusia sebagai kesatuan humanitas yang egaliter. Kita memerlukan agama bukan sebagai satuan dogmatis, tetapi kebenaran rasional, intuisi dan emosional yang terus tumbuh dan berkembang secara beragam. Kita memerlukan agama yang tumbuh dan berkembang kompelenter dengan perkembangan akal pikiran manusia. Kita memerlukan agama sebagai satuan duniawi yang menyertai kehidupan manusia sehari hari secara riil dan produktif berdasarkan kebutuhan obyektif dari suatu sosio-ekonomi yang terus berkembang. Dalam kaitan dengan hal ini perlu ada penafsiran baru terhadap rejim transenden, terutama menyangkut kehidupan diseberang kematian, yang ditolak para ilmuwan.

Transendensi agama perlu di reposisi dalam spectrum rasio yang dapat ditrerima akal sehat. Tanpa pembaruan-pembaruan ini agama-agama Semit tidak lagi komplementer dengan perkembangan zaman dan ditinggalkan umat manusia, menjadi fossiel peradaban. Itulah yng tengah dialami agama Kristen tradisional di Eropa dan AS, agama Yahudi di Israel modern, dan agama Islam di Negara-negara muslim modern. Dipihak lain rumpun agama-agama Arianik tampak lebih mudah menyesuaikan diri dng semua variable lingkungannya. Agama-agama Arianik yang berwatak kreatif itu dapat kita lihat pada sekulerisasi Buddhisme, desakralisasi kebatinan Sankya-Yoga dan sekulerisasi Hinduisme di Jepang dan Barat yang berlangsung begitu lentur dan modern. Sekian.

Birrahmatillahi Wabi’aunihi fi Sabilih.
Wassalamu’alaikum War. Wab.

Jakarta, 30 Oktober 2009.
Pengasuh,

KH. AGUS MIFTACH
Ketua Umum Front Persatuan Nasional

Leave a Comment