Pengajian Tauhid Wahdatul Ummah ke-241
In Pengajian | no comments yet | permalink
Qabbala vs Para Nabi

KH. AGUS MIFTACH
agus_miftach@yahoo.co.id
Assalamu’alaikum War. Wab.
Bismillahirrahmanirrahiem,

inna alladziina yakfuruuna bi-aayaati allaahi wayaqtuluuna alnnabiyyiina bighayri haqqin wayaqtuluuna alladziina ya/muruuna bialqisthi mina alnnaasi fabasysyirhum bi’adzaabin aliimin

ulaa-ika alladziina habithat a’maaluhum fii alddunyaa waal-aakhirati wamaa lahum min naasiriina
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yang pedih (21). Mereka itulah orang-orang yang lenyap (pahala) amal-amalnya di dunia dan di akhirat serta mereka sekali-kali tidak memperoleh penolong (22).; Ali Imran : 21-22.
Kita akan membahas kdua ayat ini dengan pendekatan eklektik-multiperspektif, baiik dari perspektif teologi, antropologi, historiografi maupun psikologi dll secara holistis dan komprehensif agar dapat dicapai pemahaman secara utuh dan menyeluruh serta hikmah yang setinggi-tingginya. Insya Allah.

Dr. Marzuki Darusman menerima piagam penghargaan pada Dialog kebangsaan ke X, 2 Juni 2009, di Gd. Manggala Wanabakti, Jakarta.
Pokok Bahasan
Asbabun-nuzul ayat ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Abu Ubaidah ibn al-Jarrah r.a.,”dia bertanya,’Wahai Rasulullah, siapakah yang paling berat siksanya pada hari kiamat ?”, maka turunlah ayat ini.
Jika kita merunut historiograf Bani Israel akan dapat dijumpai dua jalur keyakinan keagamaan yang berbeda. Yang pertama, bersumber dari para nabi Bani Israel sejak masa Ya’kub, sedang yang kedua bersumber dari ajaran paganism Mesir kuno yang kemudian disebut sebagai agama Qabbala. Dlm mitos Musa, Qabbala dipimpin oleh Musa Samiri yang membangun patung anak sapi emas, sementara Musa menerima wahyu Yahweh di bukit Tursina. Tapi satu catatan bahwa keberadaan Musa masih belum mendapat dukungan bukti-bukti arkeologis.
Dengan demikian dapat dipastikan bahwa kedua aliran keagamaan yang berbeda ini saling bermusuhan satu sama lain. Dalam perkembangannya kaum Qabbala tumbuh lebih besar dan berhasil menguasai pemerintahan. Maka sudah dapat dipastikan kekuasaan kerajaan Israel yang dikuasai kaum Qabbala akan menganggap para nabi sebagi musuh dan ancaman bagi mereka. Maka mereka ditolak dan bahkan di bunuh. Inilah adalah keniscayaan dari pertikaian klasik diantara mereka. Dan adalah semestinya tuhan Yahweh mengutuk para pembunuh itu.
Tidak ada pembunuhan yang dapat kita benarkan, bahkan terhadap lawan sekalipun. Tapi kaum Qabbala melakukannya terhadap para nabi Bani Israel. Bahkan bukan hanya para nabi, melainkan juga para cendekiawan (zuama) dari lingkungan beriman. Diriwayatkan mereka telah membunuh 43 nabi dan 170 zuama.

Qabbala
Kaum Qabbala memiliki kitab suci Talmud yang justru lebih dominan dalam tradisi Yahudi daripada Taurat Musa. Qabbala yang pada dasarnya bersendikan materialism dalam perkembangan terbagi menjadi Qabbala religious dan Qabbala sekuler, bahkan ateis. Ideologi Israel modern yang sekuler pada dasarnya tetap berakar pada Qabbala. Oleh karena itu dunia mengenal Zionis sekuler dan Zionis fundamentalis. Yang dalam perkembangannya Zionis sekuler-lah yang memimpin Israel. Ditepi lain ada kaum fundamentalis Musa yang merupakan minoritas yang terpinggirkan.
Yahudi di zaman Rasulullah saw, adalah Yahudi sinkretisme ajaran Musa dan Qabbala atau Judaisme yang berbeda dengan ajaran monoteisme Musa. Diantara mereka ada yang beriman dan masuk Islam seperi Ibnu Salam, tetapi bagian yang terbesar tetap bertahan pada Qabbala religious. Mereka inilah yang dimaksud Al-Qur’an mengikuti kepercayaan nenek moyang mereka, dan tidak mengikuti ajaran Musa. Jika mereka mengikuti ajaran Musa tentu mereka akan beriman kepada Rasulullah saw.
Yahudi di zaman modern
Sekulerisme, materialism dan ateisme Yahudi modern menunjukkan keberhasilan dalam mewujudkan Negara Israel yang demokratis dan berdaulat. Meskipun merupakan teritori yang kecil dihadapan Negara-negara Arab yang pada umumnya lebih luas, tetapi Israel merupakan Negara yang tangguh dan tidak dapat dikalahkan Negara-negara Arab dalam konflik-knflik bersenjata mereka.

Perdana Menteri Benyamin Netanyahu dan lambing Partai Likud, ultra nasionalis.
Pemikir-pemikir sekuler-materialism Yahudi memberikan sumbangan yang berharga kepada peradaban dunia, sebut saja Sigmund Freud di abad 19 dan yang mutakhir Susan Sontag dan Jacquess Derrida di abad 20. Para pemikir Yahudi mewarnai perkembangan dunia modern. Albert Einstein, Karl Mark dan masih banyak lagi. Sebaliknya para Rabbi Yahudi penganut Musa di Yerusalem hanya meributkan soal libur Sabtu karena hari Sabath dilarang bekerja, dan hari peribadatan ke Sinagoga-sinagoa Yahudi.
Puritanisme seperti itu tak lagi menarik bagi kalangan yahudi modern. Itulah sebabnya kaum religious baik dari kalangan penganut Musa maupun Qabbala Lurianik tetap terpinggirkan dalam percaturan politik Israel modern. Partai-partai garis keras seperti Likud pimpinan PM Benyamin Netanyahu bukan partai agama melainkan ultra nasionalis.Sebagian besar kaum terpelajar Israel memandang agama sebagai bagian dari masa lalu dan tidak perlu lagi.
Fanatisme mereka bukan kepada agama melainkan nasionalisme Israel. Nama-nama seperti Theodore Herzl dan David Ben Gurion yang merupakan symbol Israel modern adalah para pemikir sekularis-materialis. The Temple of Solomon atau Baitul Maqdis dalam pandangan Israel modern adalah symbol nasional dan tidak dikaitkan dengan keyakinan agama.
Penderitaan yang panjang dalam masa-masa kehidupan keagamaan mereka sejak abad ke 6 SM hingga abad ke 1 M telah memberikan kesadaran baru mereka bahwa agama tidak berguna dalam perjuangan mengubah nasib bangsa Israel. Negasi yang tajam ini disebabkan oleh pengalaman-pengalaman pahit mereka sepanjang sejarah keagamaan mereka. Namun mereka tidak keberatan dengan atribut-atribut tradisional Yahudi sebagai bagian dari nasionalism Israel. Sekian.
Birrahmatillahi Wabi’aunihi fi Sabilih,
Wassalamu’alaikum War. Wab,
Jakarta, 6 Nopember 2009,
Pengasuh,
K.H. AGUS MIFTACH
Ketua Umum Front Persatuan Nasional
email this | tag this | digg this | trackback | comment RSS feed
Leave a Comment