FPN

Front Persatuan Nasional

November 12, 2009

Pengajian Tauhid Wahdatul Ummah ke-242

Yahudi dan Qabbalah


KH. AGUS MIFTACH
agus_miftach@yahoo.co.id

Assalamu’alaikum War. Wab.

Bismillahirrahmanirrahiem,

ali-imron23

alam tara ilaa alladziina uutuu nashiiban mina alkitaabi yud’awna ilaa kitaabi allaahi liyahkuma baynahum tsumma yatawallaa fariiqun minhum wahum mu’ridhuuna

ali-imron24

dzaalika bi-annahum qaaluu lan tamassanaa alnnaaru illaa ayyaaman ma’duudaatin wagharrahum fii diinihim maa kaanuu yaftaruuna

ali-imron25

fakayfa idzaa jama’naahum liyawmin laa rayba fiihi wawuffiyat kullu nafsin maa kasabat wahum laa yuzhlamuuna

“Tidakkah kamu memperhatikanorang-orang yang telah diberi bagian yaitu Al-Kitab (Taurat), mereka diseru kepada Kitab Allah supaya kitab itu menetapkan hukum diantara mereka, kemudian sebagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran) (23). Hal itu lantaran mereka mengaku,”Kami tidak disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung.” Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-dakan (24). Bagaimanakah nanti apabila mereka Kami kumpulkan pada hari (kiamat) yang tidak ada keraguan tentang adanya. Dan disempurnakan tiap-tiap diri balasan apa yang diusahakannya sedang mereka tidak dianiaya (dirugikan) (25).” ; Ali Imran : 23-25.

Kita akan membahas ketiga ayat ini dengan pendekatan eklektik-multiperspektif, baik dari perspektif teologi, antropologi, historiografi maupun psikologi dll secara holisitis dan komprehensif agar dapat diperoleh pemahaman yang utuh dan menyeluruh serta hikmah yang setinggi-tingginya.

242-elza
Fuad Bawazier, Elza Syarif, KH. Agus Miftach dan R. Andri usai Seminar Kebangsaan di sebuah Hotel di Jakarta, pada medio 2008.

Pokok Bahasan

Ibnu Abi Hatim, Ibnu Munzir dan Ikrimah mengemukakan dari Ibnu Abbas, katanya :”Rasulullah menghadiri suatu pertemuan kaum Yahudi di rumah Madras. Maka Rasulullah menyampaikan dakwahnya agar mereka mau masuk Islam. Dua orang tokoh diantara mereka, yaitu Na’im bin Amr dan Harits bin Zaid, bertanya kepada Rasulullah,”Menganut agama apakah engkau hai Muhammad ?” Jawab nabi,”menganut millah Ibrahiem”. Mereka menanggapi,”Sesungguhnya Ibrahim itu beragama Yahudi.” Sabda nabi,”Marilah kita pegang Taurat. Dialah yang akan menjadi hakim diantara kami dan tuan-tuan.” Kedua Yahudi itu menolak, maka turunlah ayat ke 23-24.

Disini terjadi perbedaan persepsi dimana pada umumnya orang menduga bahwa yang dimaksud agama Yahudi adalah Taurat, demikian pula Rasulullah menduga demikian. Tetapi sesungguhnya yang dimaksud agama Yahudi bagi orang-orang Yahudi adalah agama paganism Qabbalah atau Kabbalah yang berakar pada kepercayaan Mesir kuno, seperti yang ditunjukkan Musa Samiri ketika membangun Anak Sapi Emas sementara Musa menerima wahyu di bukit Tursina.

Qabbalah yang berakar pada kepercayaan Mesir kuno itu dapat dikelompokkan pada agama-agama matahari seperti Sol-Invectus. Sudah tentu mereka tidak bertahkim pada Taurat, melainkan mereka memiliki kitab sucinya sendiri yaitu Talmud. Namun mereka menerima sebagian isi Taurat yang dirasa sesuai dengan kyakinan Sol-invectus. Ciri paganism adalah sinkretis, suatu bentuk percampuran sebagai proses yang terbuka. Sebenarnya semua agama tumbuh menurut hukum evolusi social, tidak mendadak ada dalam bentuknya yang sempurna, melainkan hasil sebuah proses yang panjang.

242-Baal 242-asyera 242-astarte
Mahadewa Ba’al El Elyon, dan kedua istrinya yang juga adiknya, dewi Asyera dan dewi Astarte. Ilah-ilah Qabbalah-Yahudi.

Ayat ke 25 adalah senjata pamungkas khas agama Semit dimana kekuasaan mutlak hanya ada di satu tangan yaitu Tuhan. Tak seorangpun dengan status apapun tidak akan lolos para hari pembalasan. Kaum Yahudi yang paganis, dan realis, tentu menolak klaim transendensi hari Kiamat ini. Dalam ajaran Qabbalah hari Kiamat bahkan tidak ada. Adanya dogma kiamat di Taurat mereka tanggapi setengah hati. Andaikata mereka di hukum tentu hanya sebatas 40 hari saja ketika terjadi kasus Anak Sapi Betina Musa Samiri. Tidak akan lebih dari 40 hari. Tentu ini hanya olok-olok mereka, yang sebenarnya kaum Yahudi tidak mempercayai hari Kiamat, dan alam akhirat yang menurut tetua mereka bahkan tidak pernah diajarkan Musa dahulunya. Faktor akhirat itu muncul kemudian karena pengaruh Zoroaster.

Ajaran Qabbalah

Pada dasarnya ajaran Qabbalah adalah materialism. Icon dewa-dewa seperti mahadewa Baal el Elyon dan kedua istrinya dewi Asyera dan Astarte, dewa-dewi Osiris dan Isis dll hanya figur-figur semu yang melambangkan duniawi saja, dan tidak ada kaitannya dengan transendensi diseberang kematian. Ditempatkannya Yahweh al Sada’i sebagai tuhan tertinggi Yahudi diatas icon dewa-dewa itu merupakan bentuk sinkretism yang biasa terjadi dalam percampuran budaya. Chauvinisme Yahudi bahkan menciptakan satu mitos dimana tuhan tercipta bersamaan dengan seorang laki-laki yang menjadi cikal bakal yahudi-qabbalah yang disebut Adam Kadmon. Disini orang Yahudi menyamakan diri mereka dalam derajad ilahi. Ini tegolong mitos yng rada gila-gilaan, yang berlanjut dengan klaim rasial Yahudi sebagai ras terunggul di dunia. Tapi klaim seperti itu juga dilakukan oleh bangsa Aria dan kaum Muslimin, dan semua entitas budaya memiliki etnosentrisme masing-masing, dan itu sah.

242-osiris
Dewa-dewi Osiris dan Isis. Ilah-ilah Mesir kuno.

Qabbalah tidak mengenal dogma akhirat dan mereka tidak mempercayai mitos kehidupan diseberang kematian. Dengan demikian Qabbalah jelas pula menolak dogma kiamat. Seperti pada umumnya ajaran paganism, Qabbalah mempercayai reinkarnasi, suatu siklus kehidupan dan kematian di dunia yang tidak henti. Kitab suci Qabbalah Yahudi adalah Talmud, yang terdiri dua bagian, yaitu Halaqah dan Hagadah, yang berisi ritual dan cerita-cerita sebagai pelajaran moralitas.

Meskipun Taurat Musa dihormati, tetapi mereka lebih yakin kepada Talmud, itulah sebabnya mereka menolak bersumpah atas nama Taurat yang memang tidak dominan dalam kehidupan sehari-hari kaum Yahudi. Qabbalah terdiri beberapa aliran, yang terkuat dan terbesar adalah Qabbalah Lurianic yang bercorak messianic. Rabbi Isaac Lurianic terakhir berada di istana Sultan Turki dan wafat di Istambul. Banyak kalangan menyebutnya telah menjadi Muslim, tetapi para pengikutnya membantahnya. Sebelum akhir hidupnya, Rabbi Lurianic mengklaim dirinya adalah pemimpin suci dunia dari zaman awal yang terlahir kembali untuk menyambut kedatangan Tuhan sendiri di muka bumi, yang waktu itu di duga turun di Istambul.

Ini mirip dengan mitos kelahiran Yesus kembali yang akan turun di Yerusalem atau kelahiran Imam Mahdi yang lahir di Mekkah dan akan merebut Palestina. Tentu itu semua hanya mitos yang biasa terdapat dalam agama-agama, terutama yang beraliran messianic. Sekian.

Birrrahmatillahi Wabi’aunihi fi Sabilih,
Wassalamu’alaikum War. Wab.

Jakarta, 13 Nopember 2009,
Pengasuh,

KH. AGUS MIFTACH
Ketua Umum Front Persatuan Nasional

Leave a Comment